(Ingeniare + Ingenium) = Engineer

Engineer.

Sebutan yang begitu hebat menurutku. Walaupun aku benar-benar baru mengerti maknanya setelah aku memutuskan untuk masuk ke dunia itu, dunia engineering. Dari kecil, entah itu ilham dari mana, atau mungkin darah engineer sudah mengalir dalam diriku-tidak aku hanya  bercanda, aku benar-benar menyukai hal-hal berbau teknik, terutama arsitektur (aku pun belum paham istilah ini waktu itu). Aku selalu senang mengamati bangunan-bangunan apapun, tukang bekerja, dan ya seperti itulah. Dikala semua anak-anak bermimpi menjadi guru, dokter, polisi, dan semua cita-cita hits buat anak-anak saat itu. Saat ditanya cita-cita, aku selalu paling beda. Jadi arsitek, sebutku. Aku tidak besar di kota. Maka cita-cita seperti itu sering dianggap tidak realistis. Tapi aku tidak tahu, aku selalu berpikir ingin jadi arsitek, entah aku benar-benar bisa atau tidak. Dan sekarang, aku berakhir disini, di gedung sebelah tempat arsitek belajar. Teknik sipil. Aneh ya? 

Tidak.

Itu lain lagi. Dan ceritanya panjang.

Sekarang, ini sebenarnya bukan tentang aku. Ini tentang ayahku.

Ayahku, benar-benar seorang engineer sejati. Mau tahu kenapa? 
Ini dia alasannya.

Percaya atau tidak, pertama, aku bangga karena ayahku mirip sekali wajahnya dengan Robert Downey-dengan aksen indonesia yang lebih kental tentunya- dan maaf, ini sebenarnya tidak nyambung untuk topik engineer. Tapi, ini benar. Bahkan aku baru sadar. 
Baik, alasan sebenarnya begini..

Ayahku bekerja di bidang Electrical Engineering-ini sebutan keren saja, tapi orang-orang, bahkan ayahku sendiri mungkin hanya menganggapnya bidang elektrik. Itu wajar, karena ayahku memang tidak kuliah Engineering. Bahkan tidak kuliah apapun. Ia lulusan STM-sebutan jaman itu. Mungkin saat ini disebut SMK. Tapi memang bidang konsentrasi yang diambil ayahku waktu itu adalah Kelistrikan-ini kuketahui setelah aku melihat ijazah STM ayahku. Karena itulah, ia bersahabat dengan segala jenis peralatan dan pekerjaan kelistrikan. Sejak kecil aku menganggapnya bena-benar keren. Apalagi ketika aku melihat ayahku bekerja dengan peralatannya. 

Ayahku orangnya sangat pendiam-bahkan sebenarnya sampai SMA aku tidak akrab dengan ayahku- tapi aku selalu kagum padanya. Sepertinya, sifat pendiamnya itu menular kepadaku. Tapi, ia benar-benar gigih, sehingga tidak ada pekerjaan yang tidak selesai di tangannya. Apapun. 

Selain itu, ini alasan terbesarku menganggap ayahku benar-benar engineer sejati, ia bisa apa saja terutama mengubah barang rongsokan sekalipun jadi sesuatu yang berguna.  Begini, karena di rumahku layanan PDAM belum memadai, orang-orang memang biasa membuat sumur gali atau sumur artesis. Sehingga airnya harus dipompa untuk bisa digunakan. Tapi karena sering lupa, air yang di pompa ke tandon-bahasa tekniknya reservoir- sering kelebihan sehingga tumpah-tumpah dan terbuang. Maka ayahku membuat sendiri alarm yang bisa mengingatkan kami ketika air yang diisi ke tandonnya sudah penuh sehingga bisa segera mematikan pompa. Bahkan ayahku juga membuatnya otomatis, sehingga ketika airnya habis-pada batas tertentu- pompanya bisa menyala dan mengisi air di tandon dengan sendirinya. Dan ketika penuh akan mati sendiri. Aku tidak mengerti bagaimana, tapi itu ia buat dengan barang-barang bekas yang ia ambil dari tempat kerjanya. Itu keren kan. 

Selain itu, beberapa lama setelah sumur bor itu membantu kehidupan kami, kadang-kadang airnya keruh, sehingga kami harus memberikan tawas agar kotorannya mengendap dan airnya menjadi jernih. Karena ini, ayahku kembali beraksi. Kali ini ia membuat sendiri sistem penyaringan air yang baru dipompa dari sumur agar kotoran-maksudku pasir dan lumpur yang membuat airnya keruh- bisa tersaring. Itu ia buat dari lembaran-lembaran- entah dari bahan seperti kain tetapi cukup tebal dan kaku tapi tembus air- yang ia susun spiral di dalam tabung penyaring,yang disambung dengan pipa inlet dari pompa untuk air masuk dan outlet-nya menuju reservoir. Ya ampun, aku bingung, tapi sekaligus bangga dengan segala ide-ide ayahku.  

Belum lagi radio-tape yang ia buat dari radio dan CD player yang sudah rusak. Untuk mendengarka radio katanya. Ya, ayahku juga suka musik. Ia benar-benar cerdas. Ia bisa memainkan gitar dan organ- mungkin yang lainnya juga- dan ia pelajari semua itu otodidak sewaktu ia masih muda. Telinganya peka sekali dengan nada, walaupun ia tidak bisa bernyanyi menurutku. Maka sepertinya kesukaannya pada musik itu juga menular padaku. Aku selalu senang saat-saat bermain musik dengan ayahku. Walaupun ia jarang benar-benar mengajarkan aku. Tapi aku tetap senang. Masih banyak cerita-cerita tentang ide-ide ayahku yang sangat-sangat sederhana bahkan terkadang aneh, tapi benar-benar membantu.  

Begitulah ayahku. Pendiam, sederhana dan tidak macam-macam tapi sangat kreatif, gigih, kuat, dan satu lagi, penyayang. 

Dan menurutku, ayahku memang benar-benar engineer sejati. Singkatnya, ia salah satu inspirasiku untuk jadi engineer.

Aku kira, engineer harus seperti itu, berpikir dari yang hal-hal sederhana, tapi penuh kreativitas dan solusi. Bisakah aku?



Calyph shrugged. "I'm an Engineer," he said simply, as if it would explain everything." ― April Adams, Drawing the Dragon

Share:

0 komentar