Flyover Air Hitam Samarinda, Should be? (Part I)






Beberapa waktu lalu, saya memang baru denger kabar kalau di Samarinda bakal dilakukan pembangunan Flyover atau jalan layang. Begitu denger, saya langsung tertawa, ‘hahaha… serius Samarinda mau bikin Flyover?’


Kenapa saya tertawa? Karena saya pikir di Samarinda belum terlalu macet kok. Lagi pula, saya pikir lagi, ah jembatan kembarnya Mahakam aja nggak jadi-jadi, udah mau bikin Flyover, ada-ada aja.


Setelah saya cari tau, ternyata rencana pembangunan itu emang udah lama ada, dan sekarang pembangunannya udah berjalan. Sayang, saya nggak bisa ngeliat langsung sekarang pembangunannya udah kaya gimana. Tapi, saya pingin tau lebih banyak, ini Flyover beneran perlu nggak sih? Karena, gini, setelah saya belajar beberapa hal soal lalu lintas selama kuliah setahun ini, saya nggak bisa nerima gitu aja dan ikut-ikutan beranggapan sama kaya kebanyakan masyarakat, haha, yang seneng banget ini Flyover dibangun. 

Banyak yang bilang, “Wah, keren. Ini Flyover pertama di Samarinda! ” . FYI, walaupun ini emang bener, Flyover ini baru pertama kali ada di Samarinda. Atau “Nah, gini dong, biar nggak macet lagi..”. Kalo yang ini, tunggu dulu. Entah saya udah terdoktrin atau gimana, dari kuliah yang saya dapet soal transportasi, saya selalu mikir, kemacetan nggak selalu mutlak bisa di selesaikan dengan membangun fasilitas kaya Flyover ini. Emang udah nggak ada lagi manajemen lalu lintas yang bisa dipake buat mengatasi kemacetan? Selama ini, yang selalu diungkap memang Flyover ini dibangun karena kemacetan di ruas jalan yang ada di daerah ini [lokasi pembangunan] sudah sangat-sangat parah. Makanya Flyover ini dibutuhin. Tapii kembali lagi, saya masih penasaran sama pertanyaan saya barusan.


Nah, tulisan ini saya buat semata-mata karena rasa ingin tau saya dan yah, setidaknya semoga masyarakat semakin sadar, bahwa nggak selalu, pembangunan kaya gini itu bisa menyelesaikan masalah dengan instan. Selain itu, ini agak muluk sih, haha, supaya yang sekarang lagi kerja sebagai planner kota Samarinda bisa menyelesaikan masalah secara lebih efisien, biar nggak ngabisin duit.


*dalam hal ini yang saya maksud Planner itu, orang-orang dalam lingkup pemerintahan, perencanaan, pengembangan, dan pemeliharaan kota Samarinda. Hayo, siapa aja dong jadi? Haha…


Oke, sekarang kita caritau dulu apa dan gimana sebenernya proyek Flyover ini.



Flyover ini berlokasi di Kelurahan Air Hitam, Samarinda Ulu, Samarinda. Nah, Flyover ini bakal memanjang dari  Jalan Abdul  Wahab Syahranie (AWS) sampai Jalan Ir. H. Juanda, sebagai penghubung keduanya, buat mengurai kemacetan yang dimaksud tadi.  Flyover ini  katanya bakal dibangun sepanjang 600 meter. Tapi saya jadi bingung karena ada informasi yang mengatakan lebarnya 9 meter. Ada lagi yang mengatakan 12 meter. Kayaknya 12 meter itu maksudnya 9 meter ditambah bahu jalan. Nah, untuk masalah kontraktor,  sebelumnya ada 27 perusahaan kontraktor yang ikut dalam tender proyek ini. Termasuk kontraktornya BUMN yaitu, PT Wijaya Karya, PT Hutama Karya dan PT Waskita. Tapi, sayangnya nggak ada kontraktor lokal yang ikut di tender ini. Kebanyakan emang dari kontraktor-kontraktor Jakarta.  Dan akhirnya yang menang tender untuk tahap pertama adalah PT Wijaya Karya (Wika). 



Oh iya lupa, proyek ini dikerjakan dalam dua tahap, yang pertama untuk pelebaran jalan. Terus yang kedua, untuk pembangunan fisik Flyover-nya. Masalah sumber dana, proyek ini make duit APBD tahun 2013 kota Samarinda untuk yang tahap pertama (pelebaran jalan) sebesar Rp 18.941.180.000[1] (pagu paket) dengan penawaran kontrak Rp. 17.811.173.000[2] [ribet juga angkanya yak] Dan ehem, sisanya kemana tuh [nah loh] HAHAH


Untuk yang tahap kedua, berdasarkan info yang saya dapet, duit yang dipake adalah duit APBD Kota Samarinda juga, tapi APBD tahun 2014 sebesar Rp 123.030.820.000[3] [WHOAH] duit segitu bisa buat beli nasi bungkus berapa banyak hahaha… dan setelah diadain tender lagi, yang megang proyek ini akhirnya PT WIjaya Karya (Wika) [lagi], dengan penawaran kontrak Rp 116.510.186.000[4]. Proyek ini emang direncanain proyek tahun jamak (Multiyear) jadi penganggaran dananya bisa berkali-kali sampe batas tahun yang udah di tetapin dan pekerjaannya juga harusnya sesuai tahun yang di tentuin itu. Buat proyek Flyover ini, direncanain jadi proyek tahun jamak mulai 2013 sampe 2015. gitu.  

Oh iya, satu lagi yang penting, proyek ini owner-nya adalah  Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Bina Marga dan Pengairan. Owner itu istilah buat pihak yang punya proyek, artinya mereka yang nyiapin dana, nerbitin surat perintah kerja buat kontraktor, sama nyetujuin atau nggak nyetujuin sebuah perubahan atau segala sesuatu yang berkaitan sama proyek itu. 


Selain unsur tahap I dan II yang udah saya sebutin tadi, sebenernya masi ada lagi kegiatan dan pihak-pihak yang terkait sama proyek ini. Kaya konsultan pengawas, terus juga yang bikin AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), dan sebagainya. Jadi, sebenernya emang banyak banget pihak-pihak yang ngurus proyek kayak gini. Soalnya pemkot Samarinda kan nggak bisa ngelaksanain semuanya sendiri, jadi perlu banyak bantuan dari swasta. Wah, berarti aggarannya jadi banyak banget dong..


Emang iya.


Beda kegiatan dan apalagi beda pihak yang diajak kerja sama, anggaran yang harus disiapin beda. Jadi buat satu proyek kaya gini, Pemkot bisa ngajuin anggaran (APBD)  berkali-kali.


Yang jelas semua orang berharap anggarannya dipake bener-bener kan ya… nggak ada yang di sunat-sunat, hahah. Kan demi kelancaran masyarakat bertransportasi buat meningkatkan perekonomian khususnya dan seluruh kepentingan masyarakat di segala sektor pada umumnya.. Jadi, ya, semua harus diupayakan tepat sasaran dan mementingkan masyarakat umum tanpa melupakan aspek-aspek keamanan, lingkungan  dan keberlanjutan pembangunan lainnya heheh

Masih banyak yang mau saya tulis soal Flyover ini, hehe jadi sampe ketemu lagi di [part] selanjutnya :))))

 


[1] http://spse.kaltimprov.go.id/eproc/lelang/view/4573035;jsessionid=9E532FA7044FB85BDA3F3708BF7A378B
[2]  http://www.ruang11.perpus.web.id/2013/07/samarinda-segera-miliki-flyover-untuk.html
[3] http://lpse.samarindakota.go.id/eproc/lelang/view/740596
[4] http://lpse.samarindakota.go.id/eproc/lelang/pemenang/740596
 

Share:

1 komentar

  1. Assalamualaikum
    Kami ibu mita dari palembang ingim menyampaikan kisah nyata kami siapa tau ada yg ingin seperti saya.

    Meski hidup dalam keprihatinan, karena hanya mengandalkan penghasilan dari jual gorengan, namun rumah tangga kami terbilang harmonis. Jika berselisih paham, kami selalu menempuh jalan musyawarah. Hal itu wajib kami terapkan untuk menutupi aib dan segala bentuk kekurangan yang ada dalam rumah tangga kami agar tidak terdengar oleh orang luar. Karena begitulah pesan dari para orang tua kami.

    Hari demi hari aku habiskan hanya untuk bekerja dan bekerja. Hal itu aku lakukan, selain sadar akan tanggung jawabku sebagai orang tua , juga ingin menggapai harapan dan cita cita. Yah, mungkin dengan begitu ekonomi keluargaku dapat berubah dan aku bisa menyisihkan sedikit uang penghasilanku itu untuk masa depan anak-anakku dikemudian hari. Namun semua itu menjadi sirna.

    Selanjutnya kami pun melangkah untuk mencobanya minta bantuan melalui dana gaib tanpa tumbal,alhamdulillah dalam proses 1 hari 1 malam kami bisa menbuktikan.

    Jalan ini akan mengubah kemiskinan menjadi limpahan kekayaan secara halal dan tidak merugikan orang lain.

    Alhamdulillah semoga atas bantuan ki witjaksono terbalaskan melebihi rasa syukur kami,
    saat ini karna bantuan aki sangat berarti bagi keluarga kami.
    Bagi saudara-saudaraku yg butuh pertolongan silahkan
    hubungi
    Ki Witjaksono di:0852-2223-1459
    Supaya lebih jelas kunjungi blog
    Klik-> PESUGIHAN UANG GAIB

    BalasHapus